Kekisruhan dan konflik Sepakbola Indonesia

Posted on

Pembentukan Liga Primer Indonesia

Kekisruhan sepak bola di Indonesia di mulai bersama dibentuknya Liga Primer Indonesia, yang digagas oleh pebisnis Arifin Panigoro terhadap tahun 2010. Pembentukan Liga Primer Indonesia terhadap pas itu dilatarbelakangi oleh permohonan untuk memajukan sepak bola Indonesia jadi lebih mandiri, tidak terkait kepada anggaran berasal dari pemerintah daerah tiap-tiap klub. Pada pas itu, PSSI tetap diketuai oleh Nurdin Halid, dan Liga Super Indonesia yang dibentuk terhadap terhadap tahun 2008 adalah sebagai liga tingkat teratas di Indonesia. PSSI berasumsi Liga Primer Indonesia adalah sebagai liga pembangkang (breakaway league).

Pembentukan Liga Prima Indonesia

Setelah kepengurusan PSSI bergeser kepada Djohar Arifin terhadap tahun 2011, pengurus yang baru tidak mengakui hasil persaingan LSI musim 2010-11 sebelumnya, dan sebagai gantinya membentuk Liga Prima Indonesia untuk persaingan musim 2011-12 berikutnya. Pada tanggal 21 September 2011 rapat komite eksekutif PSSI merubah format persaingan berasal dari 18 tim ditambah 6 klub baru yang merupakan bekas tim yang berlaga di Liga Primer Indonesia dan dilebur kedalam Liga Super Indonesia supaya membentuk persaingan baru bersama nama Liga Prima Indonesia (bahasa Inggris: Indonesian Premier League (IPL)). Pembentukan liga baru ini mengundang pro dan kontra di kalangan klub-klub dan lebih-lebih berlangsung perpecahaan di dalam pada anggota komite eksekutif PSSI. Sehingga lebih dari satu klub yang tidak setuju terhadap pembentukan Liga Prima Indonesia, senantiasa mobilisasi persaingan Liga Super Indonesia. Kekisruhan berlanjut bersama tidak diakuinya Liga Super Indonesia musim 2011-12, dan dianggap sebagai liga pembangkang (breakaway league). Perseteruan semakin berlanjut dan raih puncaknya bersama dibentuknya Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI), oleh klub-klub dan lebih dari satu anggota PSSI yang menunjang senantiasa dilaksanakannya Liga Super Indonesia.

Lihat Juga : Prediksi Sepakbola

Dualisme organisasi, kompetisi, daerah dan klub

Pembentukan KPSI sebabkan terjadinya dualisme organisasi pengatur sepak bola di Indonesia dan dualisme kompetesi liga (ISL dan IPL). Tidak cuma liga tingkat teratas saja yang berlangsung dualisme, di tingkat ke-2 tiap-tiap persaingan ISL dan IPL terhitung mempunyai Divisi Utama.

Sebagai akibat terdapatnya dua persaingan yang berjalan, maka timbul pula dualisme klub yang mengikuti tiap-tiap persaingan tersebut. Sedikitnya tersedia 6 klub yang mengalami dualisme bersama kenakan nama yang sama, dan tiap-tiap mengaku sebagai klub yang asli. Berikut ini adalah daftar klub-klub yang dilanda dualisme bersama nama yang sama :

1. Persija Jakarta (IPL dan ISL)
2. PSMS Medan (Divisi Utama ISL dan Divisi Utama IPL)
3. Persebaya Surabaya (IPL dan Divisi Utama ISL)
4. Arema Indonesia (IPL dan ISL)
5. PSIS Semarang (Divisi Utama IPL dan Divisi Utama ISL)
6. PPSM Magelang (Divisi Utama ISL dan Divisi Utama IPL)

Persoalan dualisme terhitung menjalar ke tingkat pengurus provinsi (pengprov). Ada sebanyak 17 pengurus provinsi yang mengalami dualisme kepengurusan.
Pembekuan PSSI

Menpora Imam Nahrawi membekukan PSSI bersama alasan PSSI tidak mematuhi ketentuan olahraga nasional. FIFA selaku federasi sepak bola tertinggi dunia menjatuhkan sanksi kepada Indonesia akibat intervensi Menpora.